Segala puji bagi Allāh. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du.
Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Orang
bilang, cinta adalah segalanya. Karena cinta, tai kucing (nama sejenis
makanan di Jawa) pun serasa cokelat. Demi cinta, orang pun rela
menyeberangi lautan, menaiki gunung, menuruni lembah, dan mengorbankan harta benda untuk kekasihnya. Apakah rasa cinta juga punya kaitan dengan agama kita?
Kedudukan Cinta
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Kecintaan merupakan pokok agama Islam
yang menjadi poros segala ajaran agama. Dengan kesempurnaan cinta maka
sempurnalah agama islam, dan dengan berkurangnya cinta maka berkuranglah
tauhid seorang insan. Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah
kecintaaan penghambaan yang mengandung perendahan diri dan ketundukan
serta ketaatan secara mutlak dan lebih mendahulukan sosok yang dicintai
dari segala sesuatu selain-Nya. Kecintaan semacam ini murni untuk Allāh,
tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya dalam hal ini sesuatu apapun.”
(lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 84)
Dengan
kecintaan semacam itulah seorang hamba akan bisa merasakan manisnya
iman. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah ṣallallāhu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga perkara; barangsiapa yang
ketiga hal itu ada pada dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya
iman. Orang yang menjadikan Allāh dan Rasul-Nya lebih dicintainya
daripada selain keduanya. Dia mencintai seseorang semata-mata karena
kecintaannya kepada Allāh. Dia tidak suka kembali kepada kekafiran
setelah Allāh selamatkan dia darinya, sebagaimana dia tidak suka
dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no.
43)
Imam an-Nawawi rahimahullāh berkata, “Para ulama -semoga
Allāh merahmati mereka- mengatakan bahwa makna manisnya iman adalah
kelezatan di saat melakukan ketaatan dan sanggup menanggung berbagai
kesulitan demi menggapai keridhaan Allāh ’azza wa jalla dan Rasul-Nya
ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam serta lebih mengutamakan itu di atas
kesenangan dunia…” (lihat Syarh Muslim [2/96]).
Syaikh as-Sa’di
rahimahullāh berkata, “…Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta
seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya
harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga
rasa cintanya kepada Allāh mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya
dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang
dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya
seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (lihat
al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)
Antara Ibadah dan Kecintaan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullāh mengatakan, “Ibadah
dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta
maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allāh).
Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam
kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun
merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun
berharap dan mencari keridhaan-Nya.” (Lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala
Zaad al-Mustaqni’ [1/9] cet. Mu’assasah Aasam)
Bagaimana Mencintai Allāh?
Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata,
“Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu adalah cabang pengenalan
terhadapnya. Manusia yang paling mengenal Allāh adalah orang yang paling
mencintai-Nya. Setiap orang yang mengenal Allāh pasti akan
mencintai-Nya. Tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali
melalui pintu ilmu nama-nama Allāh dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh
ma’rifat seorang hamba terhadap Allāh kecuali dengan berupaya mengenali
nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun
as-Sunnah…” (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’
wa as-Shifat, hal. 16)
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullāh berkata,
“Kecintaan kepada Allāh ta’ālā itu semestinya membuahkan kecintaan
terhadap ketaatan kepada-Nya. Karena Allāh mencintai hamba-Nya yang taat
kepada-Nya. Sementara seorang yang mencintai -kekasihnya- niscaya dia
juga akan mencintai apa saja yang dicintai oleh kekasihnya, itu sudah
pasti.” (lihat Fath al-Majid, hal. 326)
Kelezatan dan Cinta
Ibnul Qoyyim rahimahullāh berkata,
“Kelezatan mengikuti rasa cinta. Ia akan menguat mengikuti menguatnya
cinta dan melemah pula seiring dengan melemahnya cinta. Setiap kali
keinginan terhadap al-mahbub (sosok yang dicintai) serta kerinduan
kepadanya menguat maka semakin sempurna pula kelezatan yang akan
dirasakan tatkala sampai kepada tujuannya tersebut.
Sementara
rasa cinta dan kerinduan itu sangat tergantung kepada
ma’rifah/pengenalan dan ilmu tentang sosok yang dicintai. Setiap kali
ilmu yang dimiliki tentangnya bertambah sempurna maka niscaya kecintaan
kepadanya pun semakin sempurna. Apabila kenikmatan yang sempurna di
akherat serta kelezatan yang sempurna berporos kepada ilmu dan
kecintaan, maka itu artinya barangsiapa yang lebih dalam pengenalannya
dalam beriman kepada Allāh, nama-nama, sifat-sifat-Nya serta
-betul-betul meyakini- agama-Nya, niscaya kelezatan yang akan dia
rasakan tatkala berjumpa, bercengkerama, memandang wajah-Nya dan
mendengar ucapan-ucapan-Nya juga semakin sempurna.
Adapun
segala kelezatan, kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan -duniawi yang
dirasakan oleh manusia- apabila dibandingkan dengan itu semua laksana
setetes air di tengah-tengah samudera. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin
orang yang berakal lebih mengutamakan kelezatan yang amat sedikit dan
sebentar bahkan tercampur dengan berbagai rasa sakit di atas kelezatan
yang maha agung, terus-menerus dan abadi?
Kesempurnaan seorang
hamba sangat tergantung pada dua buah kekuatan ini; kekuatan ilmu dan
rasa cinta. Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allāh, sedangkan
kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada-Nya. Sementara itu
kelezatan yang paling sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan
dua hal ini, Allāhul musta’aan.” (lihat al-Fawa’id, hal. 52 cet. Dar
al-’Aqidah)
Tanda Kecintaan
Rabi’ bin Anas rahimahullāh menyebutkan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya,
“Tanda cinta kepada Allāh adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya.
Sebab sesungguhnya tidaklah kamu mencintai sesuatu melainkan kamu pasti
akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam,
hal. 559).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan
mengingat Allāh, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allāh maka hati
akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allāh dengan sebanyak-banyaknya…” (QS. al-Ahzab: 41).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian
melalaikan kalian dari mengingat Allāh.” (QS. al-Munafiqun: 9).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152).
Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),
“Katakanlah -hai Muhammad, kepada umatmu-; Apabila kalian benar-benar
mencintai Allāh maka ikutilah aku, niscaya Allāh akan mencintai kalian
dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Dari
ayat yang mulia ini kita dapat mengetahui bahwa barangsiapa yang
mengikuti Rasul, itu menunjukkan bahwa pengakuan cintanya kepada Allāh
adalah jujur. Sebaliknya, orang yang tidak mengikuti Rasul, maka itu
menunjukkan bahwa dia tidak termasuk golongan orang yang benar-benar
mencintai Allāh ta’ālā (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 128)
Wallāhul muwaffiq.
Artikel Pemudamuslim.com
Oleh Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi
Dikutip dari ebook "Offline Abumushlih.com"
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Juni 2014
Selasa, 03 Juni 2014
MENGGAPAI CINTA SEJATI
Cinta…setiap orang pasti pernah mengucapkannya…atau merasakannya walaupun cuma ada di dalam hati. Tumbuhnya cinta itu kadang bukan karena inisiatif pelakunya, mekarnya cinta datangnya secara tiba-tiba. Cinta membuat jiwa membara, wajah berseri dan mata berbinar. Ketika mengalaminya, cinta tidak bisa dibendung karena ia adalah anugerah dan tidak bisa dihadang sebab ia adalah karunia. Begitulah cinta, ia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda, memberikan makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar.Tak terlihat, hanya terasa tapi dasyat.
Wanita ketika mendengar kata “cinta” akan merasa lebih sensitif dibandingkan dengan kaum adam. Karena sudah menjadi fitrah bahwa muslimah memiliki jiwa yang lebih lembut, halus dan peka daripada pria. Kelembutan jiwa, kehalusan hati dan kepekaan perasaan itu adalah keistimewaan muslimah. Tetapi tidak jarang hal tersebut malah mendorongnya menjadi salah sikap terhadap cinta.
Ketika hati mulai merasakan cinta, hendaknya kita bertanya pada diri sendiri, atas dasar apa mencintainya. hubungan semacam apa yang akan kita bina, apakah cinta yang kita simpan dan rasakan itu dibenarkan oleh syariat agama dan mau kemana tujuan akhir cinta kita. Setelah kita menyadari semuanya, langkah selanjutnya kita menentukan sikap bagaimana dalam menjalin hubungan dengannya, apakah dengan berpacaran dengan dalih menjajaki calon pasangan kita? Pacaran justru membuat hidup kita tidak produktif. Banyak waktu yang berlalu sia-sia hanya untuk memikirkan satu orang. Bagaimana mungkin masa muda yang singkat ini kita isi dengan pacaran yang jelas-jelas membuat hidup kita terkekang. Setiap hari memikirkan dia, makan memikirkan dia, berjalan, belajar bahkan saat sholat pun masih memikirkan si dia. Adalah hak kita untuk tertarik kepada seseorang karena itu fitrah. Namun jangan nyatakan cinta sebelum ijab qobul tiba karena yang kita inginkan adalah kepastian bukan janji kosong. Dan ketahuilah “Barangsiapa yang berduaan (laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim) maka ketiganya adalah setan.” Mendekati zina saja sudah dilarang. Allah Maha Tahu, jika sudah mendekati zina, maka setan akan sangat mudah masuk untuk mengganggu manusia untuk berzina. Pada akhirnya siapa yang paling dirugikan? perempuan. Bagaimana cara untuk menghindarinya? Termasuk di dalamnya adalah dilarang berduaan tadi karena yang ketiga adalah setan, menjaga mata atau pandangan, menutup aurat bagi wanita dan takut terhadap ancaman-ancaman Allah bagi yang berbuat zina, yang salah satunya disebutkan dalam hadist ini,“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi,itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” Allah dengan syariatnya yang suci juga telah mengatur dalam menentukan pendamping hidup, yaitu hendaknya dititikberatkan pada pemahaman agamanya, lalu beristikharah dan berdoa : “Ya Allah,kalau memang ia baik untukku mudahkanlah,jika tidak baik untukku jauhkanlah.”
Cinta menyimpan kekuatan besar, tak terlihat, hanya terasa tapi dasyat
Hati-hatilah agar kita tidak terjebak dengan cinta yang membuat kita menjadi tidak mulia. Disergap dengan perangkap-perangkap setan. Dibuntuti oleh bisikan jahat iblis yang menginginkan kita terjerumus ke lembah nista. Cinta yang tidak disadari telah menghancurkan kehidupan, menghempaskan masa depan, mencabik-cabik harapan dan menurunkan status kemuliaan di mata Tuhan. Ada banyak hal yang harus kita lakukan, banyak ilmu yang harus kita kuasai, banyak keahlian yang belum kita gapai dan banyak peluang yang belum kita raih. Banyak orang yang perlu kita nasehati, banyak orang yang belum pandai mengaji harus diajari, banyak lautan kebaikan yang harus kita seberangi ,banyak tantangan yang harus kita daki.Kehidupan itu: memberi dan efeknya kembali.Kalau kita mencintai orang lain yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah SWT maka Allah akan mencintai kita.
Cinta harus dialirkan selaras aliran cinta Sang Maha Pemilik Cinta. Cinta juga melahirkan pertanggungjawaban pada setiap mereka yang selalu bertanya mampukah mempertanggungjawabkan sikapnya di hadapan Allah kelak. Lihatlah bagaimana sahabat Rasulullah dalam menempatkan cintanya. Di masa Rosululloh SAW, ada sepenggal kisah cinta yang dialami Abdullah bin Abu Bakar ra. Ceritanya berawal ketika sang ayah, Abu Bakar ash Shiddiq seorang lelaki yang paling dicintai Rasulullah meminta Abdullah menceraikan dengan talak satu sang istri belahan jiwanya karena dianggap sebagai penyebab dirinya lalai sholat berjamaah di masjid. Relung-relung hatinya dipenuhi rasa rindu. Wajah lembuh Atikah binti Zaid terus membayang. Ia tak kuasa menepikan senyum manis pelabuhan cintanya. Karena tak kuat membendung rasa rindunya, akhirnya Abdullah bin Abu Bakar sengaja duduk di jalan yang selalu dilewati sang ayah saat pergi sholat ke masjid. Begitu melihat ayahnya, ia pun bersenandung pilu “Aku tak mengerti kenapa diriku tega menceraikannya. Aku juga tidak mengerti tentang dirinya yang rela dicerai tanpa dosa.” Dia mempunyai akhlaq yang baik dan lurus di dunia dan akhirat. Air mata rindu pun mengalir membasahi wajah gagahnya. Hati sang ayah pun luluh. Ia pun kemudian memperkenankan putra tercintanya untuk rujuk kembali dengan tambatan hatinya.
Ketahuilah bahwa hidup kita ini amat tergantung kepada Allah. Udara segar yang kita nikmati setiap waktu semuanya adalah karunia Allah SWT. Mudah bagi Allah jika tarikan nafas kita tersendat dengan pilek atau mungkin membuat harus bernafas dengan bantuan oksigen. Sungguh amat banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini. Cinta kepada Allah dan cinta kepada apa yang dicintai Allah. Hal ini yang dituntunkan oleh Islam dan dikekehendaki Allah. Cinta kepada Allah (mahabatullah) merupakan cinta yang pertama dan utama. Ia adalah bingkai sekaligus pondasi cinta karena cintanya kepada Allah lah kemudian muslimah mencintai sesuatu karena itu perintah Allah, ia cinta karena Allah. Muslimah mencintai Rasulnya, keluarga Rasul dan sahabat Nabi, ia mencintai mereka karena Allah memerintahkannya. Muslimah mencintai suaminya,orang tuanya, anak anaknya semuanya untuk Allah dan karena Allah, lillah dan fillah. Muslimah mencintai dakwah, mencintai jamaah dakwah untuk Islam semuanya untuk Allah dan karena Allah. Cinta yang demikian adalah cinta yang sejati yakni mencintai sesuatu yang dicintai Allah, diperintahkanNya atau diizinkanNya tanpa melebihi cinta kepada Allah. Betapa dasyatnya kecintaan Allah kepada kita tatkala kita mempersembahkan diri kita untuk dakwah di sepanjang jalan Allah, berupaya keras agar seluruh hambaNya bertakwa kepada Nya, menjadi perantara atas masuknya hidayah Allah kepada banyak orang yang ada di dunia ini. Manusia yang paling mulia dihadapanNya adalah hambanya yang bertakwa. “Jika Allah menolong kamu,maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu,tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS Ali Imron 160) (Ummu Ridho)
Haruskah Pernikahan Didasari Rasa Cinta?
(Dengarkan Kisah Nyata Akhwat Gorontalo)
Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya
yang tak terlupakan:
“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku
Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum
lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur
hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah
perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri
menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah
dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang
tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu.
Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah
anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang
seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan Kak
Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu
berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget
gelagatnya…,
Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak
Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti
kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di
mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan,
sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu
orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah.
Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan
kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan
hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab
kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi
menghadiri acara-acara di desa.
Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang
biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang
tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget.
Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota
namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada
dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat,
taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton
pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam
minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan
malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat
kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak
salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio
Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis
modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku
sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa
indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua
orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal
restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang
pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan
lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan
itu.
Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku
tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak
sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan
terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak
lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan
pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.
Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh
tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan
membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena
beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku
sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah
simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua
atau lari bersama kekasih hatiku Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan
penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan
kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan
kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus
merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia
belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun
digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku
tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang
hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus
melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai.
Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir
juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi
padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin
merayap. Hingga usailah acara
resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak
tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku
berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak
kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan
kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu
adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan
tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat
tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan.
Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku.
Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga
pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah
ranjang pengantin kami.
Dadaku kembali berdetak kencang kala
mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah
pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang
bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang
denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri
merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia
tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa
peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam
hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani
aktifitas kami masing-masing, Kak
Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.
Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak
pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi
malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak
malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah
ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku
walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya.
Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih
dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali
mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah
kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar,
Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki
normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau?
pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk
dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama
dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya?
ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di
mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua
orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia
tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan
berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.
Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah
batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu
lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan
melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang
tidak dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan
apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita
muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.
Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak
Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa
hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya
lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai
selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam
dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit
tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah
dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk
menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak
pernah disentuhnya atau ditanyakannya.
Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan
siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya
istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku
ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan
di rumah.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya.
Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku.
Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji,
lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di
sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan
jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung
bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku.
Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa
yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi
apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak
bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan
pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia
selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai
angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat
ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur
pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku
merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu
bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan
hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.
Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit
dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil
berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan?
ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh
sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku
sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang
lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air
mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan.
Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku
begitu dingin? kau bahkan tak
pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi
galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia
memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar
kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak
tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat
mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini
telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu
saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu.
Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini.
Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak
Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak
begitu tega melakukan ini
pada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.
pada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.
Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika
kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama
pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka.
Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu
malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki
lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang
ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan
pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu
yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau
tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan
mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas
kebahagiaanmu.
Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu
karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu
sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah
kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa
memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di
malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata
karena terpaksa melayani kakak?
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau
tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di
hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu.
Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila
hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah
melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga
telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan
niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak
semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala
selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku
merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku
bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang
paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama
kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui
dengan bahagia. Kak arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti
seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak
belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan
busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah
tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia
bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami
lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku
bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak
pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami,
setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami
kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari
setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan
penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku
kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan
bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya
Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah
fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta
padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang
senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik
dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.
Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada
seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya
mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada
kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita
berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak
. Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya
Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum
keesokan harinya Kak Arfan
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo,
Sulawesi Utara
Manajemen Cinta
Bila
kita berbicara masalah cinta, tidak akan habis waktu untuk membahasnya.
Sayangnya bahasan cinta tidak jauh seputar masalah antar makhluk. Padahal
bahasan cinta itu begitu luas, segala hubungan baik sesama makhluk maupun
dengan sang pencipta dan juga segala kegiatan yang kita lakukan.
Cinta
memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Fenomena yang terjadi
sehari-hari mengungkapkan bahwa cinta dapat menjadi motivator aktivitas yang
kita jalankan. Namun perlu juga kita sadari bahwa cinta dapat juga merusak
aktivitas kita.
Oleh
karena itu disadari atau tidak, cinta mempengaruhi kehidupan seseorang, baik
cinta kepada Allah maupun bukan kepada Allah. Cinta bukan kepada Allah sering
membawa kepada cinta buta yang tak terkendali sedangkan cinta kepada Allah akan
membawa kepada ketenangan dan kedamaian. Cinta kepada makhluk membawa
ketidakpastian, penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada Allah akan membawa
keyakinan dan keabadian.
Cinta
yang bukan karena Allah biasanya didasari oleh syahwat dan cinta kepada Allah
didasari oleh iman. Syahwat akan mengendalikan diri kita dan bahkan bila kita
memperturutkan syahwat dapat membahayakan kita. Oleh karena itu kita perlu
mengetahui bagaimana mengelola cinta agar bahagia dunia dan akhirat.
Cinta
erat kaitannya dengan amal/aktivitas. Amal tanpa cinta akan merusak amal yang
dikerjakan, karena hanya akan menghasilkan rutinitas dan penghayatan yang semu.
Namun sebaliknya apabila amal berdasarkan cinta akan menghasilkan amal saleh
yang dihayati dengan mendalam. Ibadah kepada Allah perlu didasari kecintaan.
Dengan adanya cinta kepada Allah maka kita akan rela dan ikhlas melaksanakan
semua perintahnya bahkan rela berkorban jiwa dan harta.
Pembagian Cinta
1. Sesuai syariat
Cinta
seorang mu’min lahir dari ketulusan imannya kepada Allah SWT. Cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya mesti diiringi nilai Islam yang benar. Kesalahan dalam
mencintai Rasul akan membawa kepada taqlid yang membabi buta dan menimbulkan
figuritas yang berlebihan bahkan cenderung menjadi tuhan baru.
Cinta
berdasarkan syariat akan kekal, tidak saja terjadi di dunia tetapi akan
berlanjut sampai di akhirat. Kasih sayang sebagai wujud dari cinta akan
menghaluskan akhlaq dan melembutkan jiwa. Cinta yang sesuai syariah akan
mengarahkan manusia untuk menyayangi yang lemah dan melindungi yang tua,
mengajak kepada kebaikan dan menguatkan iman.
2. Tidak sesuai syariat
Cinta
yang tidak sesuai dengan syariat berdasarkan atas keinginan syahwat. Cinta
tanpa iman hanya memenuhi tuntutan syahwat semata (hawa nafsu). Cinta seperti
ini tidak kekal dan biasanya bersifat materi. Cinta seperti ini hanya akan
menyengsarakan manusia karena akan menggelincirkan manusia pada kehinaan dan
penyesalan.
Namun satu hal perlu yang kita perhatikan adalah
kecintaan pada syahwat (QS. Ali Imran (3) : 14) seperti wanita, anak, harta
benda, binatang, ladang dan lain-lain dibenarkan keberadaannya oleh Allah
karena kecintaan ini merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah agar cinta
ini dapat membawa kita pada ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat
yang perlu dilakukan ialah mengarahkan bahwa cinta ini perlu dikendalikan oleh
syariat bukan dibunuh/dihilangkan. Dengan panduan syariat kecintaan yang
bersifat syahwati akan menuntun pada kebahagiaan yang hakiki sedangkan tanpa
syariat kecintaan syahwati ini akan membawa kesesatan dan kesengsaraan.
Tanda-tanda Cinta
1. Banyak mengingat yang dicintainya, (QS. Al
Anfal (8) : 2)
2. Kagum
Kagum muncul karena adanya suatu kelebihan yang dilihatnya, apakah bersikap subjektif atau objektif. Kagum diawalai dengan mengenali sesuatu yang lebih dibandingkan dengan yang lain. (QS. Al Hasyr (59) : 24)
Kagum muncul karena adanya suatu kelebihan yang dilihatnya, apakah bersikap subjektif atau objektif. Kagum diawalai dengan mengenali sesuatu yang lebih dibandingkan dengan yang lain. (QS. Al Hasyr (59) : 24)
3. Ridha
Cinta menimbulkan keridhaan kepada yang dicintai apapun yang diperintahkan atau dilarang ia rela melakukannya. (QS. At Taubah (9) : 62)
Cinta menimbulkan keridhaan kepada yang dicintai apapun yang diperintahkan atau dilarang ia rela melakukannya. (QS. At Taubah (9) : 62)
4. Tadhhiyah (siap berkorban)
Cinta akan membuat kesiapan untuk berkorban demi kepentingan yang dicintainya. Ia akan membela habis-habisan sebagai wujud dari cintanya. (QS. Al Baqarah (2) : 207)
Cinta akan membuat kesiapan untuk berkorban demi kepentingan yang dicintainya. Ia akan membela habis-habisan sebagai wujud dari cintanya. (QS. Al Baqarah (2) : 207)
5. Takut
Ketakutan yang muncul dari cinta adalah dalam bentuk harap dan cemas berharap agar yang dicintainya ridho dan cemas bila yang dicintainya tidak ridho kepadanya. (QS. Al Anbiya (21) : 90)
Ketakutan yang muncul dari cinta adalah dalam bentuk harap dan cemas berharap agar yang dicintainya ridho dan cemas bila yang dicintainya tidak ridho kepadanya. (QS. Al Anbiya (21) : 90)
6. Berharap
Cinta menumbuhkan harapan kepada yang dicintainya. (QS. Al Ahzab (33) : 80)
Cinta menumbuhkan harapan kepada yang dicintainya. (QS. Al Ahzab (33) : 80)
7. Taat
Bukti dari cinta adalah mentaati kepada yang dicintainya. (QS. An Nisaa (4) : 80)
Bukti dari cinta adalah mentaati kepada yang dicintainya. (QS. An Nisaa (4) : 80)
Setelah memahami tanda-tanda cinta tersebut,
diharapkan kita dapat membuat porsi-porsi yang tepat dalam mengelola cinta.
Cinta yang menempati urutan pertama dan utama adalah cinta kepada Allah, dengan
mencintai Allah kita akan mendapat berkah dan rahmat dari Allah karena Dialah
penguasa sejati kita, pencipta kita. Setelah itu mencintai apa yang dicintai
Allah yaitu Rasulullah SAW sebagai utusannya dan penerus risalah terakhir
kepada manusia, terutama sesama muslim karena Allah telah mempersaudarakan umat
muslim dimanapun mereka berada.
Kisah-kisah Cinta
1. Seorang sahabat bernama Jabir secara fisik
kata orang ia tidak ganteng dan secara ekonomi ia miskin. Ketika Rasul SAW
menawarkannya untuk menikah, dia menyatakan kesediaan meskipun semula dia tidak
yakin akan adanya orang tua yang akan menikahkan putrinya kepadanya. Dan
ternyata Rasul SAW mempertemukan dirinya dengan seorang wanita yang tak hanya
sholehah, tapi juga cantik dan keturunan bangsawan. Tapi beberapa hari sesudah
pernikahan, bahkan kata orang suasananya masih suasana pengantin baru, ketika
datang panggilan jihad, maka tak segan-segan dia mendaftarkan diri kepada Rasul
SAW untuk menjadi pasukan perang, lalu ia betul-betul berangkat ke medan jihad
hingga syahid.
2. Kisah kaum Anshor menyambut muhajirin
Ketika
Rasulullah telah berhijrah, beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajiri dan
kaum Anshor, di rumah Anas bin Malik. Mereka saling memberikan hak waris
setelah kematiannya, sedangkan kaum kerabatnya tidak menerima hak waris
tersebut, hal ini berlaku sampai turun surat Al Anfal ayat 75.
Selain
itu Rasulullah SAW juga mempersaudarakan Abdur Rahman bin Auf dan Sa’ad bin
Ar-Rabi. Sa’ad bin Ar-Rabi berkata kepada Abdur Rahman : “Aku termasuk orang
Anshor yang mempunyai banyak harta. Harta itu akan kubagi dua, setengah untuk
anda dan setengah untuk aku, aku mempunyai dua orang isteri, lihatlah mana yang
anda pandang paling menarik. Sebutkan namanya, dia akan segera aku cerai. Setelah
habis masa iddahnya Anda kupersilahkan menikahinya. Abdur Rahman menjawab:
“Semoga Allah memberkahi keluarga dan kekayaan Anda. Tunjukkan saja kepadaku,
dimanakah pasar kota kalian?.
Kaum
Anshor berkata kepada Nabi SAW, “Bagikanlah pohon kurma di antara kami dan
ikhwan kami”. Beliau berkata, “Tidak”. Kaum Muhajirin berkata, “Kalian memenuhi
kebutuhan kami dan kami ikut bekerja bersama kalian dalam mengurus buah itu”,
kaum Anshor berkata, “Kami dengar dan taat”.
Hal
ini menunjukkan kepada kita bahwa kaum Anshor sangat ramah terhadap saudara
mereka, kaum Muhajirin. Sangat tampak sikap rela berkorban, mengutamakan orang
lain dan cinta kasih kaum Anshor. Sedangkan kaum Muhajirin sangat menghargai
keikhlasan budi kaum Anshor. Mereka tidak menggunakan hal itu segai kesempatan
untuk kepentingan yang bukan pada tempatnya. Mereka hanya mau menerima bantuan
dari kaum Anshor sesuai dengan jerih payah yang mereka curahkan di dalam suatu
pekerjaan.
Sungguh persaudaraan itu merupakan suatu kebijakan
yang unik dan tepat, serta dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi
oleh kaum muslimin.
Hadits tentang Cinta
1. “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah itu
ada beberapa orang yang bukan golongan nabi dan syuhada, namun para nabi dan
syuhada menginginkan keadaan seperti mereka, karena kedudukannya di sisi Allah.
Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah tolong beritahu kami siapa mereka?” Rasulullah
SAW menjawab : “mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Allah
tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak adak
hubunga harta benda yang terdapat pada mereka. Maka demi Allah wajah-wajah
mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain
takut dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita”. (HR. Abu
Daud)
2. “Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu
dengan saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannnya (berjabatan tangan)
gugurlah dosa-dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon kering jika
ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih
dilaut”. (HR. Tabrani)
3. “Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat
berfirman: “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari
ini Aku akan menaungi dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku”. (HR.
Muslim)
4. “Allah SWT berfirman: “Pasti akan mendapat
cinta-Ku orang-orang yang cinta- mencintai karena Aku, saling kunjung
mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku”. (Hadits Qudsi)
5. “Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di
desa lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat
menemaninya, ia berkata: “Kau mau kemana?” Ia menjawab: “Aku ingin mengunjungi
saudaraku di desa ini. “Lalu malaikat bertanya: “Apakah kamu akan memberikan
sesuatu kepada saudaramu?” Ia menjawab: “Tidak ada, melainkan hanya aku
mencintainya karena Allah SWT”. Malaikat berkata: “Sesungguhnya aku diutus
Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang
tersebut karena-Nya”. (HR. Muslim)
6. “Tiga perkara, barangsiapa memilikinya
memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan
Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang kepada
Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakkan ke dalam api
neraka”. (HR. Bukharim Muslim)
Langganan:
Postingan (Atom)

